MENTERENG.ID – Piala Dunia 2026 menghadirkan situasi diskriminatif bagi Tim Nasional Iran. Menjelang turnamen sepak bola terbesar dunia itu, Iran harus menghadapi kendala di luar lapangan akibat aturan perjalanan yang diberlakukan Amerika Serikat.
Alih-alih menetap di negara tuan rumah seperti peserta lainnya, Timnas Iran dikabarkan hanya diperbolehkan masuk ke wilayah Amerika Serikat pada hari pertandingan dan wajib meninggalkannya pada hari yang sama.
Keterangan tersebut disampaikan Duta Besar Iran untuk Meksiko, Abolfazl Pasandideh, yang menjelaskan bahwa akses delegasi Iran ke Amerika Serikat sangat terbatas selama penyelenggaraan Piala Dunia 2026.
“Aturannya, kami masuk pada pagi hari dan harus meninggalkan Amerika Serikat di hari yang sama,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa Iran tidak memiliki keleluasaan untuk bermukim sementara di Amerika Serikat selama turnamen berlangsung, berbeda dengan mayoritas negara peserta lainnya yang dapat menempatkan tim mereka di pusat-pusat latihan yang telah disiapkan FIFA.
PILIHAN REDAKSI : Herdman Buka Suara soal Kondisi Justin Hubner, Apa Kata Ivar Soal Lawan Mozambik?
Situasi ini tidak lepas dari hubungan politik yang masih tegang antara Iran dan Amerika Serikat. Ketegangan kedua negara kembali meningkat dalam beberapa bulan terakhir setelah konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel pada awal tahun 2026.
Dampaknya kini merembet ke dunia olahraga, termasuk persiapan Timnas Iran menjelang Piala Dunia.
Akibat kondisi tersebut, Federasi Sepak Bola Iran terpaksa mengubah rencana pemusatan latihan yang sebelumnya dirancang berlangsung di Amerika Serikat. Sebagai alternatif, seluruh persiapan tim dipindahkan ke Meksiko yang berbatasan langsung dengan Amerika Serikat.
Langkah ini dinilai sebagai solusi paling realistis agar skuad Iran tetap dapat menjalani program latihan secara optimal sekaligus memudahkan mobilitas menuju lokasi pertandingan.
Pada putaran final Piala Dunia 2026, Iran tergabung di Grup G bersama Belgia, Mesir, dan Selandia Baru.
Menariknya, seluruh pertandingan fase grup Iran dijadwalkan berlangsung di wilayah Amerika Serikat. Dua laga akan dimainkan di Los Angeles, California, sementara satu pertandingan lainnya digelar di Seattle, Washington.
Kondisi tersebut membuat Tim Melli—julukan Timnas Iran—harus menjalani rutinitas perjalanan yang lebih kompleks dibanding peserta lainnya. Mereka diperkirakan akan bolak-balik dari Meksiko ke Amerika Serikat setiap kali menjalani pertandingan.
Meski menghadapi tantangan nonteknis yang cukup berat, Iran tetap bertekad tampil kompetitif di ajang empat tahunan tersebut. Tim asuhan federasi sepak bola Iran itu kini fokus mematangkan persiapan di Meksiko sambil menunggu dimulainya kompetisi pada pertengahan tahun 2026.
Piala Dunia 2026 sendiri akan menjadi edisi pertama yang diikuti 48 negara dan diselenggarakan bersama oleh Amerika Serikat, Kanada, serta Meksiko. Bagi Iran, turnamen kali ini bukan hanya ujian di atas lapangan, tetapi juga tantangan logistik dan diplomatik yang harus dihadapi sepanjang kompetisi berlangsung.
Panitia Tarik Jatah Tiket untuk Suporter Timnas Iran
Sementara itu, Federasi Sepakbola Iran (FFIRI) mengaku bahwa penyelenggara Piala Dunia 2026 telah menarik alokasi tiket pertandingan untuk suporter tim nasional mereka hanya beberapa hari menjelang turnamen digelar.
FFIRI menganggap bahwa penarikan alokasi tiket pendukung Timnas Iran ini merugikan karena sebagian suporter sudah merancang perjalanan untuk menyaksikan laga tim mereka di Piala Dunia 2026.
“(Penarikan) ini dilakukan dengan fakta bahwa banyak pendukung Iran, yang mengandalkan proses yang diumumkan resmi sudah melakukan rancangan yang diperlukan untuk menghadiri pertandingan,” kata FFIRI sebagaimana dipetik dar The Guardian.
FFIRI menganggap tindakan ini sebagai aksi diskriminasi yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kesetaraan dalam olahraga. Mereka mempertanyakan soal komitmen FIFA untuk tak mencampurkan urusan politik dengan olahraga.
“Pencabutan akses suporter Iran untuk alokasi tiket resmi dan mengikut aturan bertentangan dengan semangat pengelolaan kompetisi internasional dan prinsip kesetaraan di antara negara-negara partisipan,” kata FFIRI.
“Situasi ini memunculkan pertanyaan-pertanyaan serius tentang campur tangan pertimbangan politik dan non-olahraga oleh penyelenggara acara sepakbola terbesar di dunia.”
Perlakuan “khusus” Piala Dunia 2026 terhadap Iran merupakan imbas dari perang negara tersebut dengan aliansi Israel-Amerika Serikat yang terjadi sejak akhir Februari lalu.
Amerika Serikat sendiri adalah salah satu tuan rumah bersama Kanada dan Meksiko di Piala Dunia 2026. Sebelumnya mereka juga sudah memberikan visa masuk untuk Timnas Iran secara terlambat.
Timnas Iran yang sedianya bermarkas di Tucson, Arizona, Amerika Serikat, harus pindah ke Tijuana, Meksiko. Ini dilakukan karena Pemerintah AS tak mengizinkan delegasi Iran bermalam di wilayah mereka.
Team Melli–julukan Timnas Iran–mendarat di Meksiko pada Minggu (7/6/2026) subuh lalu. Mereka baru mendapatkan visa masuk ke AS sekitar sehari sebelumnya.
Pelatih Timnas Iran, Amir Ghalenoei, mengeluhkan telatnya pemberian visa ini karena berdampak pada mundurnya perjalanan skuadnya ke markas untuk Piala Dunia 2026.
Menurut Amir Ghalenoei, skuad Iran semestinya sudah harus terbang ke markas Piala Dunia dua pekan sebelum bertanding karena butuh waktu untuk pemulihan selepas perjalanan.
“Kami seharusnya berada di sini pekan lalu karena perbedaan waktu 12 jam butuh dua pekan penyesuaian,” kata Amir Ghalenoei.
