MENTERENG.ID, JAKARTA – Resesi ekonomi saat ini menjadi topik hangat di tengah eskalasi perang Amerika Serikat-Israel versus Iran. Hampir semua pakar ekonomi telah memperkirakan bakal terjadi puncak resesi ekonomi pada tahun 2030 mendatang. Diawali dengan krisis ekonomi yang akan mulai terjadi pada tahun 2027 mendatang.
Resesi ekonomi tahun 2030 mendatang bahkan diprediksi akan lebih parah disbanding saat pandemi COVID-19 lalu, dimana seluruh belahan dunia membanting kegiatan perekonomian secara keras.
Indonesia pun disebut tak akan luput dari resesi ekonomi tersebut. Pemerintah mengonfirmasi bahwa Indonesia masuk ke jurang resesi setelah pertumbuhan ekonomi memasuki zona negatif dua kali berturut-turut.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa pertumbuhan ekonomi kuartal III lalu terbilang minus 5,32% secara tahunan. Hal ini meneruskan pertumbuhan ekonomi yang minus 3,49% secara tahunan yang terjadi di kuartal II.
Namun, topik resesi nampaknya masih akan membayangi perekonomian dunia di tahun ini. Pada pekan ini, contohnya, ekonom memprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi di zona Eropa akan mengalami fenomena yang disebut double dip recession. Adapun, double dip recession adalah resesi ekonomi yang kembali terjadi setelah kondisi ekonomi di periode sebelumnya menunjukkan tanda-tanda pemulihan.
Para ekonom memprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi zona Eropa di kuartal IV 2020 berada di rentang minus 1,8% hingga 2,3%, yang diikuti oleh kontraksi ekonomi yang lebih dalam di awal 2021. Ini akan menjadi resesi ekonomi kedua kalinya di Eropa dalam dua tahun terakhir.
Hanya saja, banyak masyarakat kerap menganggap resesi sebagai krisis ekonomi. Padahal, keduanya cukup berbeda. Lantas, apa perbedaan krisis dengan resesi ekonomi?
Perbedaan Krisis dan Resesi Ekonomi
Dilihat dari cakupan keparahannya, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara menjelaskan bahwa krisis ekonomi masih lebih “ringan” ketimbang resesi ekonomi.
Krisis ekonomi adalah situasi di mana terjadi penurunan beberapa indikator ekonomi tertentu. Misalnya, seperti krisis finansial, yang berarti hanya sektor keuangan, nilai tukar rupiah, hingga kinerja perbankan saja yang mengalami masalah.
Sementara itu, resesi ekonomi terjadi ketika indikator makroekonomi penting suatu negara memasuki zona negatif. Di mana, melemahnya indikator-indikator tersebut bisa memukul sektor riil dan sektor pasar modal di waktu bersamaan.
Pengertian resesi juga ditegaskan oleh lembaga penelitian di AS, National Bureau of Economic Research (NBER), yang mengatakan bahwa resesi adalah indikasi turunnya daya beli masyarakat secara umum dan naiknya angka pengangguran.
Dengan kata lain, dampak resesi ekonomi tentu akan lebih parah dibanding krisis. Namun, perbedaan resesi dan krisis ekonomi tak hanya terletak di sisi keparahannya, tetapi juga pada panjang waktunya.
Bhima mengatakan, pertumbuhan ekonomi yang negatif di satu kuartal bisa dikategorikan sebagai krisis. Hanya saja, hal itu tidak serta merta bisa dikategorikan sebagai resesi. Sebab, menurut pengertiannya, resesi adalah pertumbuhan ekonomi yang masuk ke zona negatif dalam dua kuartal berturut-turut.
Di bawah ini adalah ciri-ciri yang umum digunakan untuk mendeteksi resesi ekonomi:
1. Guncangan ekonomi yang tiba-tiba
Saat pandemi COVID-19 memukul sektor ekonomi di seluruh dunia adalah contoh yang lebih baru dari goncangan ekonomi yang tiba-tiba.
2. Utang yang berlebihan
Saat individu atau dunia usaha mengambil terlalu banyak utang, mereka bisa terjebak ke gagal bayar utang. Kondisi inilah yang membuat kebangkrutan dan membalikkan perekonomian.
3. Gelembung aset
Investasi berlebihan di pasar saham atau real estate diibaratkan seperti gelembung yang bisa membesar. Ketika gelembung meletus, terjadi penjualan dadakan yang dapat menghancurkan pasar dan menyebabkan resesi.
4. Inflasi Terlalu Tinggi
Inflasi adalah tren harga yang stabil dan naik seiring waktu. Inflasi bukanlah hal yang buruk, tetapi inflasi yang berlebihan adalah fenomena yang berbahaya. Bank sentral tentu akan mengendalikan inflasi ini dengan menaikkan suku bunga. Namun, suku bunga yang lebih tinggi menekan kegiatan ekonomi.
