Berita  

KUHP Baru dan Tantangan Penegakan Hukum

satu abad menggunakan KUHP warisan Kolonial Belanda, Indonesia akhirnya memiliki KUHP nasional

Wicipto Setiadi - Guru Besar FH UPN Veteran Jakarta dan Dewan Pakar Jimly School of Law and Government (JSLG)
banner 468x60

Perubahan Paradigma Pemidanaan
Salah satu aspek penting dalam KUHP baru adalah perubahan paradigma pemidanaan. Jika dalam sistem lama pemidanaan lebih berorientasi pada pembalasan, maka dalam KUHP baru terdapat kecenderungan untuk menempatkan pemidanaan sebagai sarana koreksi dan pemulihan.

Pendekatan ini terlihat dari penguatan konsep restorative justice serta pengenalan berbagai alternatif pemidanaan yang tidak selalu berbentuk pidana penjara. Dalam banyak kasus, penyelesaian perkara melalui pendekatan yang lebih restoratif diharapkan dapat memberikan keadilan yang lebih substantif bagi korban, pelaku, dan masyarakat.

Namun perubahan paradigma ini juga menuntut kesiapan aparat penegak hukum untuk memahami dan menerapkan konsep tersebut secara tepat.

BACA JUGA : https://mentereng.id/hukum-kembali-diuji-oleh-seorang-anak-yang-belum-genap-dewasa/

Tantangan Implementasi
Salah satu tantangan terbesar dalam penerapan KUHP baru adalah kesiapan sumber daya manusia dalam sistem peradilan pidana. Polisi, jaksa, hakim, advokat, dan aparat pemasyarakatan perlu memiliki pemahaman yang komprehensif mengenai perubahan-perubahan dalam KUHP baru.

Tanpa pemahaman yang memadai, terdapat risiko terjadinya perbedaan penafsiran dalam penerapan norma hukum. Hal ini dapat menimbulkan ketidakpastian hukum serta disparitas dalam penegakan hukum.

Selain itu, perubahan hukum pidana juga memerlukan penyesuaian dalam berbagai peraturan pelaksana, termasuk peraturan internal lembaga penegak hukum. Tanpa kerangka regulasi yang jelas, implementasi KUHP baru dapat menghadapi hambatan administratif dan kelembagaan.

Tantangan Sosialisasi kepada Masyarakat
Tantangan lain yang tidak kalah penting adalah sosialisasi kepada masyarakat. Hukum pidana tidak hanya menjadi domain aparat penegak hukum, tetapi juga harus dipahami oleh masyarakat sebagai subjek hukum.

Jika masyarakat tidak memahami perubahan yang terjadi dalam KUHP baru, maka potensi kesalahpahaman terhadap norma hukum dapat meningkat. Dalam beberapa kasus, hal ini bahkan dapat memicu kontroversi atau resistensi sosial terhadap penerapan hukum.

Oleh karena itu, proses sosialisasi yang efektif menjadi kunci penting dalam memastikan keberhasilan implementasi KUHP baru.

Response (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *