MENTERENG.ID – “Mobil Jeep” di tahun 1990-an itu adalah cerita yang nyata yang bikin anak SD jadi merinding dan berlari sejauh mungkin.
” Tahun 90an , rasa takut anak-anak bukan karna PR matematika atau kena marah guru, tapi karna rumor yang turun temurun, tentang mobil Jeep yang lewat dan cari anak kecil untuk dijadikan tumbal pembuatan jembatan,”.
“Dan kami dulu tumbuh dengan 2 aturan.
Jangan keluar pas magrib tiba,
Dan jangan dekati mobil yang kacanya hitam,” kenang generasi milenial yang lahir tahun 1980-an kepada MENTERENG.ID.
Dan sekarang rasa ketakutan itu menjadi sebuah kenangan tersendiri bagi bagi masing-masing orang.
Cerita “Mobil Jeep” itu bukan sekadar omong kosong. Ia adalah mitos yang tumbuh subur berbarengan dengan masuknya ribuan unit Jeep Cherokee XJ dan Wrangler YJ ke jalanan Indonesia di pertengahan tahun 90-an—dua sosok kotak, hitam, kaca pekat, yang pas sekali jadi wadah segala ketakutan anak-anak yang imajinasinya masih liar.
Kita tumbuh di masa saat maghrib bukan cuma waktu shalat. Ia adalah garis mati. Begitu azan berkumandang dari masjid dekat sawah, seketika jalanan yang tadi ramai sepeda ontel dan anak-anak bermain kelereng jadi sepi menyala. Orang tua berteriak dari teras panggil nama anaknya satu per satu, dengan nada yang tidak bisa ditawar: “Masuk! Nanti dijemput Mobil Jeep!”
Dan yang bikin merinding, Mobil Jeep itu selalu ada di waktu yang salah.
Kalau di teras rumah lampunya belum dinyalakan, kalau hujan turun rintik-rintik bikin kabut tipis di jalan aspal yang masih panas, kalau lampu mati satu lingkungan—tiba-tiba dari ujung jalan terdengar suara mesin yang berat, bergetar, parau seperti orang menggeram pelan. Duar-duar-duar. Bunyi khas mesin 4.0L enam silinder segaris yang idle-nya memang tidak pernah halus. Getarannya sampai membuat kaca jendela rumah kita berdentang kecil.
Anak-anak sudah tahu isyarat. Satu bisikan dari ujung jalan: “Jep lewat!” Semua langsung berhamburan. Ada yang lari masuk ke rumah tetangga terdekat, ada yang meringkuk di balik semak belukar sambil pegang mulut sendiri supaya tidak ketahuan bernapas, ada yang sampai nangis ketakutan karena kakinya terasa berat tidak bisa lari. Aturan nomor satu waktu itu: jangan pernah menatap matanya. Maksudnya lampu utama. Konon kalau kita balas tatapannya, sopirnya yang tidak berwajah itu akan langsung tahu di mana kita bersembunyi.
Mengapa selalu Jeep? Mengapa bukan Panther, bukan Mercy, bukan Hardtop lain?
Karena dia memang sengaja terlihat menyeramkan.
– Bodinya kotak sempurna. Tidak ada lengkungan yang ramah. Atap hardtop-nya menyatu rapat, tinggi, besar, seperti kotak besi yang tidak punya isi yang baik. Dari kejauhan dia terlihat seperti berjalan sendiri tanpa sopir.
– Kacanya hitam pekat. Bukan sekadar gelap. Hitam sampai tidak bisa tembus cahaya sama sekali. Seolah-olah di dalam sana tidak ada matahari, tidak ada orang, cuma ada kekosongan yang menunggu korban. Kita dulu yakin betul di balik kaca itu ada banyak mata yang mengawasi anak-anak bermain dari pagi.
– Dia bisa masuk ke mana saja. Berbeda dengan truk besar yang hanya bisa lewat jalan raya, Mobil Jep itu ringkas, pakai penggerak empat roda. Dia bisa masuk ke gang sempit, bisa belok tiba-tiba ke perumahan warga, bahkan konon bisa menyeberang parit kalau perlu. Tidak ada tempat lari yang aman.
– Sering lewat larut malam. Pemiliknya mayoritas pengusaha perkebunan, kontraktor proyek, pejabat, atau orang-orang yang kerjanya pulang ketika orang lain sudah tidur. Anak-anak yang tidak sengaja terjaga lewat jam sembilan malam akan melihatnya melintas pelan, tanpa suara klakson, cuma lampu kuningnya yang menyapu tembok rumah satu per satu.
Rumornya pun berkembang biak sesuai kampung masing-masing. Ada yang bilang dia membawa karung-karung besar di bagasi belakang, siap membungkus anak yang tertangkap hidup-hidup. Ada yang bilang sopirnya selalu menawarkan permen atau es krim dari celah kaca yang dibuka sedikit—jangan mau ambil, karena sesudah itu tangan kita akan ditarik masuk dengan kekuatan yang tidak bisa dilawan.
Di daerah Bengkulu yang berbatasan dengan Lampung dan Sumatera umumnya, ceritanya makin hidup karena proyek pembangunan jembatan besar di lintas Sumatera sedang marak-maraknya tahun itu. Orang tua bilang, kepala proyek butuh tumbal supaya jembatannya tidak roboh nanti, dan anak kecil yang tidak punya dosa adalah tumbal paling ampuh.
Yang paling mengerikan adalah saat dia berhenti tepat di depan rumah kita.
Mesinnya tidak dimatikan. Tetap menderu pelan di jalanan kosong. Kita mengintip dari balik tirai jendela, jantung berdebar sampai sakit, menunggu pintunya terbuka. Lima detik terasa seperti lima jam. Kadang dia diam sebentar, lalu pergi lagi perlahan.
Di hati kita langsung bersyukur: Syukurlah, hari ini aku belum dipilih. Kadang pintunya benar-benar terbuka sedikit, dan keluar asap rokok putih dari dalam—kita langsung menutup mata, berdoa supaya dia tidak melihat tirai kita yang bergerak sedikit karena napas kita yang terengah.
Baru bertahun-tahun kemudian kita tahu kebenaran yang lucu dan menyedihkan sekaligus.
Mobil yang kita takuti seumur hidup itu ternyata cuma milik pemimpin proyek jembatan di desa sebelah yang baru pulang dari mengambil bahan bangunan di gudang. Atau mobil pejabat kabupaten yang kebetulan berhenti sejenak dari perjalanan dinas. Atau sopir pribadi yang mau mengantar majikannya pulang ke rumah mewah di ujung bukit.
Kaca hitamnya bukan untuk menyembunyikan makhluk gaib, tapi karena majikannya tidak mau kena sinar matahari terik saat perjalanan jauh. Suara mesinnya yang berat itu bukan geraman hantu, tapi memang suara asli mesin enam silinder legendaris yang tidak pernah didesain untuk halus. Pintu yang terbuka itu bukan mau menangkap kita, tapi cuma Pak Sopir yang mau turun membeli kopi di warung Bu Minah yang memang buka sampai malam.
Tetapi tidak ada yang mau menyangkal: ketakutan itu adalah bagian terindah dari masa kecil kita.
Sekarang, kalau saya melihat Cherokee XJ tahun 90-an lewat di jalanan Lintas Barat Sumatera — badannya masih kokoh, kacanya masih hitam pekat, suaranya masih sama berat seperti dulu — yang muncul bukan lagi keringat dingin. Yang muncul justru rindu. Rindu pada masa ketika ketakutan terbesar kita bukan soal utang, pekerjaan, atau masa depan, tapi cuma soal tidak mau dijadikan tumbal jembatan. Rindu pada saat semua hal besar di dunia ini terasa mengerikan dan ajaib sekaligus, dan aturan paling penting dalam hidup cuma dua: jangan keluar pas maghrib, dan jangan dekati mobil yang kacanya hitam.
Mobil Jep tahun 90-an itu sudah tidak ada lagi yang menakuti anak-anak sekarang. Anak SD sekarang lebih takut HP-nya diambil orang tua atau gagal naik level di game. Tetapi bagi kita yang pernah tumbuh di masa itu, setiap kali mendengar suara mesin berat melintas dari kejauhan saat senja mulai turun, secara tidak sadar jari kita masih sedikit mengepal, dan ada bisikan kecil di hati yang berkata: Cepat masuk. Nanti dijemput!.














