Thomas Paar Dibunuh
Pada 25 Juni 1685, kapal-kapal EIC (East India Company), perusahaan dagang Inggris, mendarat di Bengkulu.
Sejatinya, tulis Marsden, kapal-kapal tersebut akan berlayar ke Pariaman untuk menjalankan perjanjian dengan kerajaan-kerajaan di pesisir barat Sumatra untuk membantu mereka melawan Belanda yang memerangi dan mengganggu mereka, dengan menawarkan lahan untuk benteng dan hak pembelian eksklusif atas lada mereka.
Namun, satu atau dua hari sebelum kapal berlayar, sebuah undangan dengan maksud serupa diterima dari para kepala suku di Bengkulu.
“Karena diketahui bahwa sebagian besar lada yang biasa diekspor dari Banten dikumpulkan dari sekitar Bencoolen (di sebuah tempat bernama Silebar), diputuskan bahwa Tuan Ord, yang dipercaya mengelola urusan ini, harus terlebih dahulu menuju ke sana; terutama karena pada musim tersebut, pelabuhan itu berada di posisi arah angin yang menguntungkan.”
Belanda, yang kemudian mengetahui kepentingan Inggris, berupaya menghalangi. “Kepentingan kami pada akhirnya menang, dan Bencoolen secara khusus—di mana tempat-tempat lain dijadikan bawahannya pada tahun 1686—mulai memperoleh tingkat kekuatan dan reputasi tertentu.
Pada tahun 1689, dorongan diberikan kepada koloni Tionghoa untuk menetap di sana…. Pada tahun 1691, Belanda merasakan hilangnya pengaruh mereka di Silebar dan negeri-negeri selatan lainnya, di mana mereka mencoba memaksakan otoritas atas nama Sultan Banten, dan hasil bumi dari tempat-tempat tersebut diserahkan kepada Inggris.”
Dalam kurun tahun 1714-1719, Inggris membangun Benteng Marlborough di Bengkulu sebagai basis pertahanan militer dan pusat administrasi Inggris di pantai barat Sumatera.
Mengenai kopi, Marsden yang pernah mengunjungi berbagai tempat di Sumatera saat bertugas dalam kurun waktu 1771-1779 melihat kopi sudah ditanam oleh penduduk lokal. “Pohon-pohon kopi ditanam secara merata di mana-mana, tetapi buah yang dihasilkan di sini tidak unggul kualitasnya, yang kemungkinan besar disebabkan sepenuhnya oleh kurangnya keterampilan dalam pengelolaannya.”
Ia juga menceritakan upaya Inggris untuk mengembangkan kopi.
“Saya telah melihat banyak perkebunan … kopi yang luas, yang dibangun dengan biaya besar oleh berbagai tuan (Eropa), dan tidak satu pun yang saya ingat berhasil…. Kekecewaan ini telah menyebabkan orang Eropa hampir sepenuhnya mengabaikan pertanian.”
Ketika sudah tidak lagi bertugas di Bengkulu, Marsden menerima surat dari Campbell bertanggal 29 Maret 1802 yang menceritakan, “Setelah banyak kesulitan dan kejengkelan, saya turun dari dataran tinggi ke lembah-lembah curam, dan di sanalah saya memperoleh keberhasilan yang sebelumnya tidak saya dapatkan di dataran yang tinggi. Di salah satu lembah tersebut, yang dialiri oleh sungai kecil yang bermuara ke Danau Dusun Besar, saya mencoba membuka perkebunan kopi, di mana sekarang terdapat lebih dari tujuh ribu tanaman yang telah berakar kuat dan mulai mengeluarkan daun-daun baru.”















Response (1)