Berita  

Insiden Crane Ambruk Ungkap Selama Ini Pemkab Kaur Tak Diajak Komunikasi Soal Proyek Sekolah Rakyat

Insiden mobile crane ambruk dalam proyek pembangunan Sekolah Rakyat (SR) di Kabupaten Kaur mengungkap suatu fakta bahwa selama ini, Pemerintah Kabupaten Kaur tidak diajak komunikasi terkait pelaksanaan Proyek pembangunan.

Insiden mobile crane ambruk dalam proyek pembangunan Sekolah Rakyat (SR) di Kabupaten Kaur mengungkap suatu fakta bahwa selama ini, Pemerintah Kabupaten Kaur tidak diajak komunikasi terkait pelaksanaan Proyek pembangunan.
Insiden mobile crane ambruk dalam proyek pembangunan Sekolah Rakyat (SR) di Kabupaten Kaur mengungkap suatu fakta bahwa selama ini, Pemerintah Kabupaten Kaur tidak diajak komunikasi terkait pelaksanaan Proyek pembangunan.
banner 468x60

MENTERENG.ID – Insiden mobile crane ambruk dalam proyek pembangunan Sekolah Rakyat (SR) di Kabupaten Kaur mengungkap suatu fakta bahwa selama ini, Pemerintah Kabupaten Kaur tidak diajak komunikasi terkait pelaksanaan Proyek pembangunan.

Insiden crane ambruk yang menewaskan satu pekerja asal Kabupaten Rembang Jawa Tengah itu tak hanya menyisakan duka mendalam, tetapi juga membuka dugaan kuat adanya arogansi dan kelalaian serius dari pihak kontraktor pelaksana.

Alih-alih menunjukkan tanggung jawab, kontraktor justru terkesan menghilang tanpa jejak. Lebih ironis lagi, sejak awal proyek berjalan, komunikasi dengan Pemerintah Daerah (Pemda) Kaur disebut-sebut nyaris tidak pernah terjalin secara langsung. Sikap tertutup ini kini menjadi sorotan tajam, terlebih setelah musibah menelan korban jiwa.

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa seluruh beban pasca-kejadian—mulai dari biaya medis, pengurusan jenazah, hingga pemakaman korban—sepenuhnya ditanggung oleh Pemda Kaur. Sementara pihak kontraktor, yang seharusnya bertanggung jawab penuh atas proyek dan tenaga kerjanya, belum menunjukkan itikad baik ataupun pernyataan resmi.

BACA JUGA : https://mentereng.id/ppih-embarkasi-se-indonesia-dilantik-menhaj-petugas-haji-tidak-boleh-diskriminatif/

“Ini bukan sekadar kelalaian, ini bentuk nyata ketidakpedulian. Mereka tidak pernah membangun komunikasi dengan daerah, tapi saat tragedi terjadi, beban justru dilimpahkan ke Pemda. Ini sangat tidak bisa diterima,” ujar salah satu tokoh masyarakat Kaur dengan nada geram, Sabtu (18/04/2026).

Tenaga Kerja Didominasi dari Luar Daerah

Kemarahan publik semakin memuncak setelah terungkap bahwa mayoritas pekerja dalam proyek tersebut didatangkan dari luar daerah, tanpa pelibatan signifikan warga lokal. Kondisi ini memicu pertanyaan besar soal komitmen sosial perusahaan terhadap masyarakat sekitar.

“Warga lokal tidak dilibatkan, tapi saat musibah terjadi, daerah yang harus menanggung semuanya. Ini jelas tidak adil dan mencerminkan sikap kontraktor yang hanya mengejar keuntungan tanpa tanggung jawab sosial,” ungkap seorang tokoh pemuda setempat.

Response (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *