Berita  

Mutigh Kawe (o): Dari Bengkulu, Membangun Narasi Kopi Islam – Sumatera

Para pengembara Muslim telah lebih dulu memperkenalkan kopi ke Indonesia

Seorang wanita muda sedang memetik Kopi atau Mutigh Kawe (O)
Seorang wanita muda sedang memetik Kopi atau Mutigh Kawe (O)
banner 468x60

Sesaat kemudian, ia mulai merasakan sensasi yang mengalir dari lidah ke perut, lalu menyebar ke seluruh tubuhnya. Penasaran, ia pun mencoba buah merahnya. Rasanya agak manis dengan biji yang terbungkus lendir tebal yang lezat. Akhirnya, ia mengunyah bijinya dan terus memakan buah merah lainnya.

Lalu, Kaldi pun ikut berjingkrak kegirangan bersama kambing-kambingnya.
Setibanya di rumah, Kaldi menceritakan pohon ajaib itu kepada ayahnya, hingga akhirnya kabar tersebut tersebar luas.

Kisah lainnya yang tak kalah memikat, tulis Bennett Alan Weinberg dan Bonnie K. Bealer yang merujuk catatan Ludwig Krapf, adalah musang penyebar biji kopi. Hewan yang gemar memanjat pohon, memakan buah terbaik, dan menyebarkan biji yang tidak dapat dicernanya melalui kotoran inilah yang dikisahkan sebagai penyebar biji kopi liar dari Afrika Tengah ke pegunungan Ethiopia Arusi dan Itta-Gallas, yang merupakan wilayah suku Galla (Oromo), tempat tanaman tersebut pertama kali dibudidayakan, lalu akhirnya dibawa ke Arab.

BACA JUGA : https://mentereng.id/kapolres-kaur-ground-breaking-masjid-al-muawanah-wujudkan-tempat-ibadah-nyaman/

Kedua kisah tersebut, tulis Weinberg dan Bealer, mencerminkan orang Etiopia, yang merupakan leluhur suku Galla (Oromo), adalah orang yang pertama kali mengenal “khasiat” kopi.

“Suku Galla, pada masa lampau yang tidak tercatat, mengumpulkan buah matang dari pohon liar, menggilingnya dengan lesung batu, lalu mencampur tumbukan biji serta daging buahnya dengan lemak hewan. Mereka membentuknya menjadi bola-bola kecil yang dibawa sebagai bekal dalam ekspedisi perang.”

Jonathan Morris juga menuliskan, suku Oromo memanfaatkan hampir setiap elemen dari tanaman tersebut. “Ini meliputi kuti, teh yang terbuat dari daun muda yang disangrai ringan; hoja, campuran kulit kering buah kopi dengan susu sapi; serta bunna qela, yaitu biji kopi kering yang disangrai dengan mentega dan garam untuk menghasilkan camilan padat penambah energi yang dibawa dalam ekspedisi. Dari semuanya, buna adalah yang paling terkenal; kulit kopi kering direbus dalam air mendidih selama lima belas menit sebelum hasilnya disajikan sebagai minuman.”

Kisah menarik lainnya, tulis William H. Ukers, adalah Syekh Omar yang secara tidak sengaja menemukan minuman kopi dalam pengasingannya di pegunungan Ousab di Yaman sekitar tahun 1258 M:
Alkisah, Syekh Omar diusir oleh musuh-musuhnya dari Moka ke padang pasir, tempat ia diharapkan akan mati kelaparan. Akan tetapi, demi bertahan hidup, ia memberanikan diri mencicipi buah-buah yang tampak ranum di semak-semak.

Buah itu ternyata terasa sangat pahit. Ia pun mencoba memperbaiki rasanya dengan memanggang buah tersebut. Bijinya malah mengeras. Ia pun berusaha melunakkannya dengan air.

BACA JUGA : https://mentereng.id/dr-pofrizal-potret-kerja-keras-patut-dicontoh-dari-kejari-kaur-ke-kejati-riau/

Biji-biji itu tetap keras, namun cairannya berubah menjadi kecokelatan. Ia meminumnya dengan harapan cairan itu mengandung nutrisi dari buah tersebut.
Syekh Omar takjub. Cairan itu terasa menyegarkan, menghilangkan rasa lesu, dan membangkitkan semangatnya yang redup.

Ketika ia berhasil kembali ke Moka, keselamatannya dianggap sebagai mukjizat. Minuman yang menyelamatkannya menjadi sangat populer, dan Syekh Omar diangkat sebagai orang suci.

Minuman Kaum Sufi
Kisah lain yang tak kalah penting, tulis Ralph S. Hattox, adalah Muhammad bin Sa’id al-Dhabhani yang dikenal sebagai Gemaleddin. Merujuk catatan Abd Al-Qadir al-Jaziri yang mengutip Shihab Al-Din Ibn ‘Abd al-Ghaffar, Gemaleddin disebut sebagai orang yang memperkenalkan dan memopulerkan kopi di Yaman, yang berawal dari lingkaran kaum Sufi.

Response (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *