Ia menjawab: ‘Saya bertanya kepada sekelompok tetua di negeri kami [tentang kemunculan kopi], yang tertua di antara mereka saat ini adalah paman saya, ahli hukum Wajib al-Din ‘Abd al-Rahman ibn Ibrahim al-‘Alawi—seorang pria berusia di atas sembilan puluh tahun—dan ia memberi tahu saya … ‘Aku pernah berada di kota Aden, dan datang kepada kami beberapa Sufi miskin, yang membuat dan meminum kopi, dan yang juga membuatnya untuk ahli hukum terpelajar Muhammad Ba-Fadl al-Hadrami, ahli hukum tertinggi di pelabuhan Aden, dan untuk … Muhammad al-Dhabhani. Keduanya meminumnya bersama sekelompok orang, di mana teladan mereka sudah cukup menjadi bukti.’”
Selain al-Dhabhani, tulis Hattox, al-Jaziri juga mengisahkan ‘Ali ibn ‘Umar al-Shadhili yang disebut sebagai orang yang memperkenalkan dan memopulerkan kopi, dengan merujuk Fakhr al-Din al-Makki.
BACA JUGA : https://mentereng.id/sering-disamakan-ini-perbedaan-krisis-dan-resesi-ekonomi/
“Telah dikatakan bahwa orang pertama yang menyebarkan [penggunaan kopi] adalah al-Dhabhani, tetapi apa yang sampai kepada kami dari banyak orang adalah bahwa orang pertama yang memperkenalkan (qahwa) dan menjadikannya [kebiasaan] yang luas serta populer di Yaman adalah tuan kami, Syekh… ‘Ali ibn ‘Umar al-Shadhili, murid dari tuan kami, Syekh… Nasir al-Din ibn Maylaq….”
Terlepas siapa yang lebih dulu memperkenalkannya di kalangan kaum Sufi, tulis Anthony Wild, tradisi ini didukung kuat oleh bukti arkeologis.
“Penggalian di Zabid menunjukkan bahwa pada awalnya (sekitar tahun 1450), kopi hampir dipastikan disajikan di kalangan komunitas Sufi saat dzikir mereka (ibadah komunal, biasanya pada malam hari) menggunakan sendok besar yang dicelupkan ke dalam mangkuk berglisir yang disebut majdur. Sebelumnya, tembikar jenis ini tidak diberi glisir, yang menunjukkan bahwa kopi dianggap memiliki tingkat kepentingan yang lebih tinggi dibandingkan cairan lainnya.”
Menyebar ke Dunia Luar
Praktik-praktik Sufi, tulis Jonathan Morris, telah membantu perpindahan pengetahuan tentang kopi ke arah utara menuju wilayah Arab, mencakup kota-kota suci Mekkah, Jeddah, dan Madinah. Di Kairo, sekitar tahun 1500-an, mahasiswa asal Yaman meminumnya di Universitas Islam Al-Azhar.
Pengadopsian kopi sebagai minuman yang dikonsumsi di luar upacara keagamaan merupakan faktor penggerak di balik kian meluasnya konsumsi kopi. “Kopi terus menyebar ke seluruh dunia Islam, dibantu oleh para pengunjung Mekkah yang mengenalnya saat melakukan ibadah Haji.”
Etiopia, tulis Morris, tetap menjadi satu-satunya sumber kopi hingga tahun 1540-an. Namun, kombinasi antara permintaan yang meningkat dan pasokan yang tidak menentu menyebabkan kopi mulai dibudidayakan di dataran tinggi pedalaman Yaman, di antara dataran pesisir Tihama dan ibu kota Sana’a.
“Benih dari varietas biji kecil yang ditemukan liar di Etiopia ditanam oleh para petani di samping tanaman pangan mereka di lahan keluarga. Inilah perkebunan kopi pertama di dunia. Wilayah tersebut tetap menjadi satu-satunya pusat produksi kopi komersial selama hampir dua abad.”
Pada akhir abad ke-16, kopi mulai menyebar ke Eropa dan Amerika Utara, yang kemudian mereka bawa ke wilayah-wilayah koloni mereka. “Belanda (Jawa, Suriname), Prancis (Réunion, Martinique, Guadeloupe, Saint Domingue, Madagaskar, Pantai Gading, Vietnam, Kaledonia Baru), Inggris (India, Ceylon/Sri Lanka, Jamaika, Kenya, Tanganyika, Uganda), Portugis (Brasil, Angola, São Tomé), Spanyol (New Spain/Meksiko, Kuba, Puerto Riko, Filipina), Italia (Eritrea), Belgia (Kongo), Jerman (Tanganyika, Kamerun, New Guinea), dan Amerika Utara (Puerto Riko, Hawai’i),” tulis Topik dan Clarence-Smith.















Response (1)