Berita  

Mutigh Kawe (o): Dari Bengkulu, Membangun Narasi Kopi Islam – Sumatera

Para pengembara Muslim telah lebih dulu memperkenalkan kopi ke Indonesia

Seorang wanita muda sedang memetik Kopi atau Mutigh Kawe (O)
Seorang wanita muda sedang memetik Kopi atau Mutigh Kawe (O)
banner 468x60

Dalam surat pada November 1803, Campbell juga menceritakan: “Kopi yang Anda pernah lihat di pesisir saya temukan telah sangat merosot kualitasnya karena kurangnya budidaya dan perawatan sehingga tidak layak untuk dikembangkan lagi. Tetapi masalah ini telah teratasi, karena lebih dari tiga tahun yang lalu saya memperoleh dua puluh lima tanaman dari Moka. Tanaman tersebut mulai berbuah dalam waktu sekitar dua puluh bulan, kini sedang panen kedua, dan berbuah lebih lebat daripada pohon buah apa pun yang pernah saya lihat. Hasil rata-ratanya sekitar delapan pon per pohon; tetapi hasil sebanyak itu tidak dapat diharapkan di perkebunan yang luas.”

Thomas Parr, yang menjadi Residen Bengkulu, juga berupaya untuk mengembangkan kopi di Bengkulu. Ia, tulis John Bastin, mengunjungi Kalkuta untuk menjelaskan kepada otoritas bahwa pasar lada saja tidak memberikan prospek untuk memperbaiki nasib Bengkulu. “Ia mencoba meyakinkan mereka tentang kebutuhan untuk memperluas budidaya rempah-rempah dan kopi di pantai barat…. Parr tampaknya mendapat dukungan di Bengal, karena Gubernur Jenderal setuju agar perkebunan kopi Moka didirikan atas nama Perusahaan, dan dikelola oleh narapidana asal Bengal.”

Di lain pihak, Parr juga memaksa penduduk untuk mengganti lada dengan kopi. Namun, ia mendapatkan perlawanan. “22 Desember (1807), rumah Kompeni di Benteenin dibakar habis dan, melihat gejala ketidakpuasan umum atas budidaya kopi telah mencapai proporsi yang berbahaya, langkah-langkah diambil oleh Residen untuk membatalkan kebijakan tersebut,” tulis Jeyamalar Kathirithamby-Wells.

Akan tetapi, informasi mengenai pencabutan kewajiban tersebut tidak disampaikan tepat waktu. “Pada malam tanggal 27 Desember, sebuah pasukan yang diperkirakan berjumlah 300 orang melancarkan serangan mendadak ke kediaman Parr di Mt. Felix dan membunuh Residen Inggris tersebut, yang mereka anggap sebagai sumber masalah bagi mereka.”

Pada 25 Agustus 1809, tulis Bastin, Richard Parry yang menggantikan Parr, dengan merujuk pada surat Parr tanggal 7 Mei 1807, melaporkan bahwa tidak ada kopi yang dikirim dari Bengkulu seperti yang dijanjikan, dan selama setahun terakhir hanya sembilan belas pon yang dikumpulkan dari perkebunan lokal. Pada 2 Juli 1810, ia memberi tahu bahwa ia telah mencoba menarik minat orang Bengkulu untuk menanam kopi, tetapi ditolak. “Budidaya kopi berhenti sama sekali pada tahun 1813 … tetapi Raffles (Thomas Stamford Raffles) menghidupkan kembali budaya tersebut pada tahun 1819-20.”

Dalam surat bertanggal 27 April 1818 untuk Marsden, Raffles yang ditulis ulang oleh Sophia Raffles bercerita. “Ia (Parr) tentu saja bertindak dengan terlalu tergesa-gesa dan tanpa pertimbangan yang matang … dan upaya untuk memaksa budi daya kopi tampaknya telah membawa ketidakpuasan tersebut ke titik krisis.”
Keinginan Raffles untuk mengembangkan perkebunan kopi kurang mendapatkan dukungan otoritas. “Kopi dan produksi tropis lainnya tentu saja dapat dibudidayakan di sini dengan keuntungan yang setara … saya tidak bisa tidak menyesali bahwa perhatian publik tidak diarahkan pada keuntungan yang mungkin dihasilkan dari kolonisasi bagian Sumatra ini,” cerita Raffles kepada the Duke of Somerset dalam surat bertanggal 20 Agustus 1820.

“Pihak otoritas atasan bersikeras bahwa kita tidak bisa …. menanam kopi,” cerita Raffles kepada Marsden dalam surat bertanggal 8 September 1823.

Response (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *