Berita  

Mutigh Kawe (o): Dari Bengkulu, Membangun Narasi Kopi Islam – Sumatera

Para pengembara Muslim telah lebih dulu memperkenalkan kopi ke Indonesia

Seorang wanita muda sedang memetik Kopi atau Mutigh Kawe (O)
Seorang wanita muda sedang memetik Kopi atau Mutigh Kawe (O)
banner 468x60

Meledak di Padang
Kemerdekaan koloni-koloni Amerika (tahun 1783) yang telah mendorong orang-orang Amerika berspekulasi mendapatkan barang-barang langsung dari negara asal, yang sebelumnya diimpor melalui Inggris, tulis Christine Dobbin, dan terhentinya produksi kopi di Karibia, St. Domingue (wilayah koloni Perancis), yang merupakan pemasok dua pertiga kopi dunia, akibat pemberontakan budak pada 1791 memicu pencarian wilayah penghasil kopi.

“Kapal pertama yang mengibarkan bendera Amerika Serikat singgah di Ujung Aceh, Sumatra, dalam pelayaran menuju India pada tahun 1784, dan pada awal tahun 1788 dilaporkan bahwa para pedagang dari Salem, Massachusetts, sedang mencari pasokan kopi di timur.”

Pada tahun 1790, tulis Dobbin, muatan kopi Amerika pertama dikirim dari Padang. Setelah itu, delapan hingga sepuluh kapal Amerika singgah di Padang setiap tahun, meskipun pada periode kendali Inggris atas pelabuhan tersebut, antara tahun 1795 dan 1819, mereka umumnya lebih memilih datang ke wilayah Pariaman-Ulakan agar tidak melanggar peraturan mengenai perdagangan Amerika dengan pelabuhan-pelabuhan Inggris di India.

“Hampir seluruh porsi kopi “Java” yang dikonsumsi di Amerika Serikat diproduksi di Pulau Sumatra … kopi Sumatra umumnya lebih disukai oleh para penikmat Amerika dibandingkan dengan hasil panen dari Jawa,” tulis Francis Thurber.

Meledaknya kopi Padang, tulis Dobbin, menarik para pedagang swasta Inggris, termasuk para pegawai Perusahaan Hindia Timur (EIC) di Padang ikut bersaing untuk pengiriman kopi. Pada tahun 1800, residen perusahaan Inggris di Padang mencatat namanya sendiri telah mengekspor kopi ke Inggris pertama kali dari perbukitan di timur laut Padang sebanyak 4.000 pikul.

“Kita tahu bahwa tidak hanya pedagang swasta Inggris dari Benggala dan Madras yang berdagang di Pariaman, tetapi agen-agen Tionghoa dan Melayu dari pemukiman Inggris (EIC) di Bengkulu juga melakukannya.”

Surau dan Desa Kopi
Kopi, tulis Dobbin, kemungkinan besar pertama kali diperkenalkan ke dataran tinggi oleh penziarah Islam pada abad ketujuh belas. Islam disiarkan dengan membangun persaudaraan muslim (tarekat) dengan menyesuaikan sistem surau Minangkabau. “Para pengikut persaudaraan ini, yang disebut Sufi, berkonsentrasi mengikuti sebuah tarika yang ditetapkan oleh seorang guru atau syekh, di mana mereka berkumpul di surau sang guru, sering kali selama bertahun-tahun.”

“Pada malam hari, para murid akan berkumpul bersama untuk melakukan zikir … Surau-surau yang lebih kecil bahkan lebih bergantung pada aktivitas pertanian mereka; para murid hanya akan diberi instruksi pada pagi buta dan selama beberapa jam di malam hari, sementara siang harinya didedikasikan untuk tugas-tugas pertanian dan merawat ternak,” tulis Dobbin.

Menjelang/awal abad kedelapan belas, tulis Dobbin, terdapat tiga tarekat Sufi yang beroperasi di Minangkabau: Naqsyabandiyah, Syattariyah, dan Qadiriyah. Tarekat Naqsyabandiyah kemungkinan dibawa pada paruh pertama abad ketujuh belas oleh seorang ulama dari Pasai di timur laut Sumatera, yang memasuki Minangkabau melalui Pariaman dan kemudian tinggal beberapa lama di Agam dan Limapuluh Kota. Dalam gaya khas guru tarekat, ia tidak segan-segan melakukan pekerjaan pertanian untuk mencari nafkah.

Sementara itu, tarekat Syattariyah yang diperkenalkan ke Sumatra oleh Abdurrauf dari Singkil (sekitar 1615–1693) yang dibawa oleh murid Abdurrauf yang berasal dari Minangkabau, Syekh Burhanuddin Ulakan ke Minangkabau sekitar akhir abad ketujuh belas.

“Sebagai pusat pengajaran sekaligus tarekat sufi, surau memberi fondasi kuat bagi Islamisasi masyarakat Minangkabau berikutnya di wilayah yang lebih pedalaman. Mereka membuat ajaran Islam dapat diterima oleh bentuk pemikiran berbasis-agrikultur di desa-desa … menciptakan kondisi yang mendukung integrasi islam dengan kehidupan masyarakat desa. Hasilnya, lingkungan pertanian menjadi salah satu aspek penting dalam surau,” tulis Achmad Syahid dkk.

Kopi yang kemungkinan besar ditanam di lingkungan surau untuk minuman zikir, perlahan diadopsi warga sekitar. “Keluarga-keluarga yang memiliki pohon buah di sekitar pekarangan keluarga juga dapat menanam kopi dengan cara yang sama, hingga akhirnya membentuk pagar tanaman lebat yang dinaungi oleh pohon-pohon lain dan dikenal sebagai pagar kopi. Produknya tidak dijual dalam bentuk biji melainkan dalam bungkusan dahan kering berdaun yang direbus oleh orang Minangkabau untuk dijadikan minuman, budidaya sederhana tersebut menyediakan sarana penghidupan tambahan.” Dalam tradisi Minangkabau, minuman dari daun kopi ini dikenal dengan aia kawa.

Pada tahun 1789, tulis Dobbin, kopi sudah tercatat tersedia di pasar Padang, kemungkinan sebagai komoditas perdagangan internal. “Di desa-desa perbukitan dataran tinggilah kopi tumbuh paling baik, dan tidak ada keraguan bahwa desa-desa ini segera memasuki perdagangan tersebut, memanfaatkan rute lama dari Agam turun ke Pariaman, yang kemudian kopinya dikirim lebih jauh ke selatan ke Padang melalui laut.”

“Desa-desa di lereng Agam di Gunung Merapi dan Gunung Singgalang, serta desa-desa di wilayah pegunungan utara antara Tanah Datar dan Limapuluh Kota di sekitar Gunung Sago dan Gunung Gabus merupakan pembudidaya kopi paling awal untuk ekspor.”

Response (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *